Viral! ‘Kinda Chic’ Adalah Tren Gaya Hidup Baru yang Mengubah Hal Biasa Jadi Keren

Viral! 'Kinda Chic' Adalah Tren Gaya Hidup Baru yang Mengubah Hal Biasa Jadi Keren

Pernah nggak sih lo scroll Instagram terus liat teks warna kuning gede-gede, tulisannya: “Kinda chic to call your mom” atau “Kinda chic to be in your 50s”? Gue yakin lo pernah. Sekarang ini lagi dimana-mana.

Dari Drew Barrymore sampe Priyanka Chopra, semua ikutan. Bahkan di TikTok, tagar #kindachic udah nembus jutaan penayangan. Semua orang tiba-tiba ngasih label “chic” ke hal-hal yang… yah, biasa aja.

Tapi tunggu dulu.

Kinda Chic ini bukan sekadar tren gaya hidup. Ini sinyal yang lebih dalam. Ini bukti bahwa media sosial kita lagi kehilangan arah.


‘Kinda Chic’ Itu Apa Sih?

Oke, gue jelasin dulu buat yang belum tau.

Chic itu artinya gaya, elegan, modis. Kayak fashionista Paris gitu, tau kan? Tapi tren “Kinda Chic” yang viral di Instagram dan TikTok ini ngubah definisinya total .

Formatnya simpel: lo bikin postingan, tulis “Kinda chic to…” terus diisi sama hal-hal yang nggak biasanya dianggap chic. Bisa tentang tubuh, bisa tentang kebiasaan sehari-hari, bisa tentang pengalaman hidup.

Contoh: model Ashley Graham nulis, “Kinda chic to know cellulite never held you back” dan “Kinda chic to not explain your body to strangers” . Drew Barrymore nulis, “Kinda chic to be in your 50s” . Reese Witherspoon bilang, “Kinda chic to call your mom” dan “Kinda chic to start a book club” .

Intinya: hal-hal biasa, bahkan yang dianggap “kurang sempurna,” dirayakan sebagai sesuatu yang chic.

Kedengeran positif kan?


Awal Mula: April 2026, dari MariaBegins

Tren ini mulai muncul sekitar April 2026 . Salah satu contoh awal datang dari influencer plus-size MariaBegins di Instagram. Dia posting foto-foto dirinya dengan caption tentang body positivity. Tulisannya: “Kinda chic to be body positive” .

Dari situ mulai nyebar. Juni 2026 mulai ngebut di TikTok, terutama di kalangan Gen Z perempuan . Juli-Agustus 2026, selebriti Hollywood ikutan. Dan sekarang? Udah jadi fenomena global.

Google Trends bilang, pencarian terkait “Kinda Chic” naik 5.000% . Di Instagram, ada lebih dari 60.000 postingan pake hashtag #kindachic .


Tapi… Kenapa Ini Jadi Tanda Media Sosial Kehilangan Arah?

Nah, ini bagian yang gue mau bahas.

Media sosial dulu—sekitar 2010-2020—adalah tempat buat nunjukkin “highlight” hidup. Liburan ke Bali. Makan di restoran mahal. Badan ideal. Itu tujuannya: aspirasional. Lo liat, lo iri, lo pengen kayak gitu.

Terus sekitar 2020-2024, mulai berubah. Ada tren authenticity. Orang mulai pamerin kegagalan, jerawat, rumah berantakan, “real life” gitu. Jadi ada semacam gerakan balik dari kesempurnaan.

Tapi Kinda Chic? Ini beda. Ini bukan realitas mentah, tapi realitas yang dibungkus kemasan chic.

Contoh Kasus 1: Dua Wajah yang Sama

Perhatiin. Lo bisa posting “Kinda chic to eat alone”. Kedengeran dalem banget kan? Tapi di sisi lain, lo juga bisa posting “Kinda chic to live in Upper East Side”—yang notabene adalah flexing gedung mewah .

Formatnya sama persis. Tapi pesannya bisa beda 180 derajat.

Ini masalahnya. Ketika semua hal bisa disebut chic pake template yang sama, maka maknanya jadi hampa. Nggak ada bedanya antara merayakan perjuangan hidup sama pamer kekayaan.

Contoh Kasus 2: Kapitalisme Diam-diam

Ada kritik pedas dari Dreamworldgirl Zine. Mereka bilang, “Before you know it, you’ve fallen into the quiet capitalist trap of faux contrarianism.” 

Maksudnya gini. Lo pikir lo lagi nge-break norma dengan bilang “Kinda chic to be average”. Tapi sebenarnya, lo cuma jadi alat buat brand-brand dan influencer dapet engagement. Mereka jualan “keaslian” yang ujung-ujungnya juga komoditas.

Bayangin, brand pakaian bisa pake tagar ini buat jualan baju “untuk semua tubuh”. Tapi tetep aja mereka produk massal. Kinda Chic jadi kemasan marketing yang lebih halus.

Contoh Kasus 3: Homogenitas di Balik “Individualitas”

Ini yang paling ironis.

Tren ini katanya tentang jadi diri sendiri. Tapi caranya semua orang sama. Teks kuning di foto. Format “Kinda chic to…”. Template yang persis.

Kalo semua orang pake cara yang sama buat nunjukkin individualitas, apa itu masih individual?

TikTok dan Instagram udah ngajarin kita: keaslian itu bisa diformat. Dan kalo keaslian bisa diformat, itu bukan keaslian. Itu konten.


Data yang Bikin Mikir

Survei kecil dari YPulse bilang, tren ini didominasi oleh Gen Z perempuan yang “meromantisasi momen-momen biasa” . Tapi pertanyaannya: apakah ini beneran romantisisasi, atau cuma coping mechanism?

Kita hidup di dunia yang semakin kacau. Inflasi, krisis iklim, ketidakpastian. Mungkin, cuma mungkin, Kinda Chic adalah cara kita bertahan. Kita bilang, “Ya udah, hidup biasa aja gapapa.”

Tapi kenapa kita harus nge-post itu ke 1.000 follower? Kenapa nggak cukup dinikmati sendiri?

Karena media sosial udah bikin kita kehilangan kemampuan buat ngerasain momen tanpa dokumentasi. Kita nggak bisa lagi “cuma” makan sendiri. Kita harus nge-post “Kinda chic to eat alone” biar dapet validasi.


Common Mistake yang Sering Dilakuin

1. Pake Tren Tanpa Ngedalemin Makna

Lo tiba-tiba posting “Kinda chic to be single” padahal lo sendiri nggak ngerasa chic. Lo cuma ikut-ikutan. Hasilnya? Hampa.

2. Nge-Bully Orang Lain Pake Format Ini

Tara Colleen, fashion influencer, kena backlash gegara pake tren ini buat nge-judge gaya orang lain . Inget, ini bukan alat buat ngerendahin.

3. Percaya Bahwa “Kinda Chic” Itu Jawaban Segala Hal

Tren ini nggak ngerubah realitas. Lo tetap punya masalah. Jangan pake ini buat kabur dari kenyataan.

4. Lupa Bahwa Ini Komoditas

Setiap lo pake tagar ini, lo lagi ngasih data ke algoritma. Lo lagi bikin konten gratisan buat platform. You are the product.


Practical Tips: Gimana Bijak Sama Tren Ini?

  1. Tanya diri lo: “Apa ini beneran penting?” Kalo lo mau posting karena beneran ngerasa, gas aja. Tapi kalo cuma FOMO, skip.
  2. Jangan jadikan ini satu-satunya bentuk ekspresi diri. Kadang-kadang, hidup yang nggak di-post juga berharga.
  3. Kritisi konten yang lo konsumsi. Kalo lo liat postingan Kinda Chic, tanya: “Apa ini asli, atau cuma kemasan?”
  4. Gunakan tren, tapi jangan dikuasai tren. Lo punya kendali atas akun lo. Bukan sebaliknya.
  5. Inget: di luar sana ada dunia nyata. Media sosial itu etalase. Jangan sampe lo lupa kalo di belakang etalase, ada toko yang mungkin lagi berantakan.

Kesimpulan: Kinda Chic Adalah Cermin, Bukan Solusi

Tren Kinda Chic bukan masalah. Ini gejala.

Kita lagi di titik di mana media sosial nggak tau lagi mau jadi apa. Highlight? Udah basi. Authenticity? Udah jadi template. Sekarang kita nyampur dua-duanya jadi “Kinda Chic”.

Dan sejujurnya? Gue agak capek.

Bukan capek sama trennya. Tapi capek sama siklusnya. Setiap beberapa bulan, ada tren baru yang katanya “ngubah hidup.” Tapi ujung-ujungnya cuma konten. Cuma siklus. Cuma cara platform bikin kita tetap scrolling.

Kinda Chic itu cermin. Cermin yang nunjukkin kita lagi bingung. Kita pengen jadi diri sendiri, tapi kita nggak tau caranya tanpa validasi orang lain. Kita pengen merayakan hal biasa, tapi kita tetap butuh 1.000 like buat ngerasa itu berarti.

Jadi, daripada ikut-ikutan, mending kita tanya: “Apa yang beneran bikin gue chic?”

Kalo jawabannya “Aku sendiri,” lo nggak perlu nge-post. Cukup rasain.

Tapi kalo lo tetep pengen nge-post? Ya udah, gapapa. Cuma inget: jangan sampe lo lebih peduli sama komen daripada sama momennya.

Karena pada akhirnya, Kinda Chic bukan tren gaya hidup. Ini bukti bahwa media sosial kita—dan mungkin kita sendiri—sedang kehilangan arah.