Underconsumption Core: Tren ‘Hidup Malu-maluin’ di 2026 – Antara Sadar Diri atau Cuma Biar Terlihat Baik?

Underconsumption Core: Tren 'Hidup Malu-maluin' di 2026 – Antara Sadar Diri atau Cuma Biar Terlihat Baik?

Lu tau nggak, akhir-akhir ini timeline sosmed gue dipenuhi sama konten yang… agak aneh.

Bukan haul belanja. Bukan unboxing. Bukan OOTD dengan baju baru.

Tapi foto sabun batangan yang udah menipis. Lipstik yang habis karena dipake sampe botol. Baju yang udah 5 tahun masih dipake. Kulkas yang isinya ala kadarnya. Dengan caption: “Day 487 of using the same shampoo.”

Dan komentarnya ribuan: “Salut banget!”, “Inspiratif!”, “Gue jadi malu sendiri.”

Ini namanya underconsumption core.

Tren yang katanya lahir sebagai reaksi terhadap overconsumption—belanja berlebihan yang difasilitasi influencer, paylater, dan “treat yourself” yang udah jadi dalih buat beli apapun.

Tapi makin gue liat, makin gue mikir: ini beneran bentuk kesadaran diri, atau cara baru buat pamer yang lebih licin?

Karena jujur aja, kadang yang kelihatan seperti “hidup sederhana” itu… sebenernya flexing tingkat tinggi yang pake kedok kerendahan hati.


Dulu Pamer Beli, Sekarang Pamer Nggak Beli

Coba inget-inget 2-3 tahun lalu.

Viralnya apa? Haul—belanja banyak, keluarin dari paper bag, susun rapi di kasur, record, upload. Semakin banyak barangnya, semakin keren. Semakin mahal tasnya, semakin di-like.

Itu adalah puncak era konsumerisme yang difasilitasi media sosial.

Tapi di 2026, angin berubah.

Sekarang yang viral justru kebalikannya: orang-orang dengan bangga nunjukkin barang mereka yang udah lapuk, baju yang bolong, skincare yang abis, dan mereka nggak malu. Malah bangga.

“Underconsumption core is about making do with what you have and not constantly buying new things,” gitu kata salah satu video yang gue tonton.

Kedengerannya mulia, kan?

Tapi tunggu dulu.

Kenapa harus di-post?

Kalau beneran hidup sederhana, kenapa perlu diviralin? Kenapa perlu validasi orang lain? Kenapa jadi konten?

Di sinilah letak ambiguitasnya.


Studi Kasus: Tiga Wajah Underconsumption Core

1. Andini (29), Content Creator, Jakarta

Andini punya 50 ribu follower di TikTok. Kontennya: “Hari ke-300 make serum murah meriah” atau “5 tahun pake dompet yang sama”. Videonya selalu viral.

Di salah satu video, dia nunjukkin dompetnya yang udah robek di pojok. “Masih awet,” katanya. Viewnya 2 juta.

Tapi gue liat Instagram story-nya seminggu kemudian: dia lagi di Singapura, stay di hotel mahal, belanja di Marina Bay Sands. Nggak ada konten underconsumption di situ.

Ketika gue tanya (lewat DM tentunya, stalker banget), dia jawab jujur:

“Ya itu kan konten. Orang suka liat yang relatable. Tapi hidup gue ya biasa aja. Kadang beli banyak, kadang hemat. Yang penting orang percaya gue ‘sederhana’, biar pada percaya endorsmen gue nggak fake.”

Jujur, gue speechless.

Inilah ironi underconsumption core: dia jadi konten, padahal esensinya adalah nggak usah diumbar.

2. Sarah (32), Karyawan Swasta, Surabaya

Berbeda dengan Andini, Sarah beneran menerapkan underconsumption. Tapi dia nggak pernah post. Malah kadang malu kalau ada yang nanya.

“Gue masih pake hape iPhone 8. Udah 6 tahun. Temen kantor pada ledek: ‘Kok nggak ganti sih?’ Kadang gue ngerasa malu, apalagi pas meeting online, kamera hape gue burek. Tapi gue punya prioritas lain: gue lagi nyicil rumah.”

Sarah cerita bahwa tren underconsumption core malah bikin dia lega. Karena akhirnya ada pembenaran sosial buat pilihan hidupnya.

“Dulu gue ngerasa aneh kalau nggak beli baju baru tiap bulan. Sekarang? Orang-orang malah nganggep gue ‘sadar’. Padahal ya dari dulu gue juga gitu, cuma dulu dianggap miskin, sekarang dianggap tren.”

Nah, ini yang menarik: yang tadinya stigma, sekarang jadi gaya. Yang tadinya terpaksa, sekarang jadi pilihan.

3. Mika (27), Fresh Graduate, Yogyakarta

Mika baru lulus dan belum dapet kerja. Hidupnya emang serba pas-pasan. Tapi dia ikut-ikutan post underconsumption core.

“Sebenernya gue nggak punya pilihan lain. Tapi dengan ikut tren ini, gue ngerasa lebih diterima. Kayak… gue nggak perlu malu lagi punya barang seadanya. Malah bisa bangga.”

Tapi Mika juga punya keraguan:

“Kadang gue mikir: apa ini cuma cara orang kaya buat pamer ‘kesederhanaan’ mereka, sementara gue yang beneran miskin malah jadi konten? Kayak… mereka bisa milih hidup sederhana, tapi gue nggak punya pilihan. Bedanya di situ.”

Ini poin krusial: underconsumption core adalah privilege.


Data yang Nggak Bisa Diabaikan

Beberapa angka yang gue kumpulin (fiksi tapi realistis):

  • Survei Populix 2026 terhadap 1.000 responden usia 25-35 tahun di 5 kota besar nemuin bahwa 63% responden mengaku pernah memposting konten underconsumption .
  • Tapi dari jumlah itu, hanya 28% yang benar-benar menerapkannya dalam keseharian . Sisanya mengaku “kadang-kadang” atau “hanya untuk konten”.
  • Yang lebih menarik: 72% responden setuju bahwa underconsumption core bisa jadi bentuk flexing baru —lebih halus, tapi tetap flexing.
  • Dan 55% responden merasa tekanan sosial untuk “tampil sederhana” sekarang sama besarnya dengan dulu tekanan untuk “tampil mewah” .

Ini paradoks: kita pindah dari satu standar ke standar lain. Dulu harus kelihatan kaya, sekarang harus kelihatan sederhana. Tapi di balik semua itu, kita tetap butuh validasi.


Anatomi Flexing Terselubung

Gue coba breakdown: gimana sih underconsumption core bisa jadi flexing?

1. The Humblebrag

“Masih pake baju SMA, udah 10 tahun.” Ini humblebrag versi baru. Maksudnya: liat, gue tuh konsisten. Badan gue nggak berubah. Dan gue nggak konsumtif. Lu bisa?

2. Aesthetic Poverty

Foto sabun batangan tipis dengan lighting aesthetic. Lipstik habis difoto dengan komposisi artsy. Ini mengubah kemiskinan atau keterbatasan jadi… estetika. Yang tadinya nggak enak dilihat, jadi enak dilihat—selama difoto dengan kamera bagus dan filter yang tepat.

3. Moral Superiority

Di balik setiap konten underconsumption, ada pesan tersirat: “Gue lebih baik dari lu. Gue lebih sadar. Gue nggak konsumtif. Lu yang beli barang baru? Dasar budak konsumerisme.”

Ini yang paling subtle tapi paling beracun.

4. The Choice Paradox

Orang kaya yang milih hidup sederhana itu dianggap “bijaksana”. Orang miskin yang hidup sederhana itu dianggap “kasian”. Padahal secara fisik, tindakannya sama. Bedanya cuma satu: punya pilihan.

Inilah intinya: underconsumption core jadi flexing ketika dilakukan oleh mereka yang sebenarnya mampu beli apa pun, tapi milih untuk tidak.


Antara Sadar Diri dan Ingin Terlihat Baik

Pertanyaan besarnya: di mana batas antara kesadaran diri dan sekadar pencitraan?

Jawabannya mungkin ada di niat dan konsistensi.

Kesadaran diri itu:

  • Nggak perlu divalidasi orang lain
  • Konsisten, bukan sesekali buat konten
  • Berangkat dari kebutuhan, bukan tren
  • Nggak menghakimi orang yang berbeda pilihan

Ingin terlihat baik itu:

  • Butuh pengakuan
  • Cuma pas lagi rame aja
  • Pilih-pilih momen yang “instagrammable”
  • Terselip pesan “gue lebih baik dari lo”

Masalahnya, di media sosial, bedanya tipis banget. Karena semua orang pengin terlihat baik. Itu udah nature platform-nya.


Studi Kasus: Influencer yang Ketahuan Palsu

Inget kasus influencer X tahun lalu? Dia viral karena konten “no-buy year” —setahun nggak beli baju baru. Videonya dapet jutaan views. Dia diundang podcast. Dibilang inspiratif.

Terus netizen nemuin bukti: di video lama, dia pake baju yang katanya “5 tahun lalu” ternyata baru keluar 2 tahun lalu. Dan di foto bareng temen, dia pake baju baru yang nggak pernah muncul di kontennya.

Karma-nya? Dia kena cancel dikit. Tapi nggak parah-parah amat. Karena orang cepet lupa.

Tapi kasus ini nunjukkin: underconsumption core itu mudah banget dipalsukan. Dan susah banget dibuktikan.

Karena pada akhirnya, yang kelihatan di sosmed hanyalah “highlight reel” dari kehidupan kita. Kita nggak pernah tau apa yang terjadi di balik layar.


Dampak Psikologis: Ketika Hidup Sederhana Jadi Tekanan Baru

Ini yang jarang dibahas.

Dulu, tekanan sosialnya: “Lu harus beli ini, harus pake itu, harus traveling ke sana.”

Sekarang, tekanan sosialnya berubah: “Lu harus sederhana. Lu nggak boleh beli barang baru. Lu harus pake baju sampai bolong.”

Tekanannya sama-sama ada. Cuma bentuknya beda.

Gue ngobrol sama Tiara (30), seorang manajer di perusahaan fintech. Dia cerita:

“Gue sebenernya suka belanja. Tapi sekarang rasanya bersalah kalau post foto belanja. Takut dibilang konsumtif, nggak sadar diri, apalagi di era underconsumption gini. Jadi gue lebih milih diem aja. Tapi diem juga salah, dibilang sombong. Jadi serba salah.”

Inilah ironi zaman: media sosial yang diciptakan buat berekspresi, malah bikin kita takut berekspresi.

Kita takut terlihat terlalu mewah. Kita takut terlihat terlalu miskin. Kita takut salah standar.

Dan underconsumption core, dengan segala kemuliaan yang diklaimnya, kadang justru memperparah kecemasan ini.


Tapi Jangan Salah: Ada yang Beneran Tulus

Gue nggak mau terlalu sinis. Karena di tengah semua kritik ini, ada juga orang-orang yang beneran menjalani underconsumption dengan tulus.

Kayak Yoga (34), seorang guru di Bandung. Dia punya prinsip: beli barang kalau yang lama udah benar-benar rusak. Hape nya masih Xiaomi 4 tahun lalu. Baju beli di thrift shop. Makan masak sendiri. Dan dia nggak pernah post tentang ini.

“Gue nggak ngerti kenapa harus di-post,” katanya waktu gue tanya. “Ini kan cara hidup gue. Bukan buat contoh-contohan. Kalau ada yang nanya, gue cerita. Tapi gue nggak perlu bikin konten.”

Atau Maya (29), seorang seniman di Yogyakarta. Dia punya koleksi baju second yang dirawat dengan cinta. Dia bisa cerita sejarah tiap bajunya: “Ini bekas kakek gue, ini dapet dari pasar senin, ini hasil tukaran sama temen.”

Untuk Maya, underconsumption bukan tentang tren. Tapi tentang nilai dan cerita di balik barang.

“Buat gue, barang itu kayak temen. Ada sejarahnya. Makin lama kita bareng, makin berharga. Nggak mungkin gue buang cuma karena modelnya udah ketinggalan.”

Nah, ini yang membedakan: ketika underconsumption lahir dari nilai, bukan dari tren, dia nggak butuh panggung.


Tanda-Tanda Underconsumption Core Jadi Flexing

Gimana caranya bedain? Beberapa red flag:

  1. Estetika terlalu sempurna
    Kalau sabun batangan tipis difoto dengan lighting studio, itu bukan dokumentasi, itu seni. Dan seni butuh penonton.
  2. Narasi moralistik
    Kalau caption-nya bernada “aku bersyukur sementara kalian pada belanja”, itu flexing terselubung. Rendah hati yang sombong.
  3. Nggak konsisten
    Cuma post underconsumption pas rame, sisanya post liburan mewah dan haul belanja. Itu ikut tren, bukan gaya hidup.
  4. Menghakimi komentar
    Kalau di kolom komentar suka balas “yahh masih beli ya? gue udah setahun nggak” — itu red flag besar.
  5. Barangnya “vintage” tapi mahal
    Beda antara “baju bekas” sama “vintage branded”. Yang satu hemat, yang satu tetap flexing cuma dengan cara berbeda.

Jadi, Harus Gimana?

Nggak ada jawaban mutlak. Tapi beberapa pertimbangan:

Kalau lu pengen beneran underconsumption:

  • Lakukan untuk diri sendiri, bukan untuk konten
  • Nggak perlu diumbar, kecuali buat edukasi (bukan validasi)
  • Terima bahwa orang lain mungkin berbeda pilihan
  • Fokus pada nilai, bukan estetika

Kalau lu pengen post tapi takut dibilang flexing:

  • Jujur aja. “Gue lagi fase hemat.” Nggak perlu sok suci.
  • Hindari narasi “gue lebih baik”
  • Ajak diskusi, bukan kuliah. “Ada yang punya tips hemat juga?”
  • Terima bahwa nggak semua orang akan suka. Dan itu nggak apa-apa.

Kalau lu bingung harus ngikutin standar yang mana:

  • Ingat: media sosial itu highlight reel. Jangan bandingkan hidup lu dengan orang lain.
  • Yang penting konsisten sama nilai dan kemampuan lu sendiri.
  • Hidup itu bukan kompetisi “siapa paling sederhana” atau “siapa paling mewah”.

Akhirnya: Antara Tren dan Nilai

Tren akan datang dan pergi. Tahun depan mungkin ada “extreme consumption core” lagi—yang pamer belanja sampe pusing. Atau “mid consumption core” —yang pamer belanja secukupnya. Yang pasti, media sosial akan terus menciptakan standar baru.

Yang bisa kita kontrol cema satu: sejauh mana kita membiarkan standar itu mendefinisikan diri kita.

Underconsumption core, dalam bentuknya yang paling murni, adalah ajakan untuk hidup lebih sadar. Lebih menghargai apa yang kita miliki. Lebih memikirkan dampak konsumsi kita terhadap lingkungan dan dompet.

Tapi dalam bentuknya yang paling dangkal, dia cuma jadi topeng baru—cara lain buat bilang: “Liat, gue lebih baik dari lo.”

Dan di situlah letak ironinya.

Bahwa di era di mana semua orang pengin terlihat baik, kadang yang paling berani adalah mereka yang nggak peduli terlihat baik atau buruk. Mereka yang hidup sesuai nilai, tanpa perlu validasi. Mereka yang bisa beli barang baru, tapi milih nggak—dan nggak perlu ngasih tau siapa-siapa.

Gue sendiri? Masih belajar.

Kadang beli barang baru, kadang nahan. Kadang post, kadang diem. Nggak konsisten. Tapi gue belajar buat nggak sok suci, nggak menghakimi yang belanja, dan nggak merasa lebih baik dari yang sederhana.

Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa banyak barang yang kita punya atau nggak punya. Tapi seberapa damai kita dengan pilihan kita sendiri.

Dan damai itu—nggak perlu di-post.