Saya Ikut Tren ‘Personal CRM’: Mengelola Hubungan Sosial Seperti Proyek Bisnis, dan Hubungan Saya Justru Jadi Lebih Autentik.

Saya Ikut Tren 'Personal CRM': Mengelola Hubungan Sosial Seperti Proyek Bisnis, dan Hubungan Saya Justru Jadi Lebih Autentik.

Saya Pake ‘Personal CRM’ untuk Pertemanan. Kok Malah Jadi Lebih Dekat, Sih?

Denger kata CRM, yang keinget sales, target, deal closing. Rasanya kaku banget buat diterapin ke pertemanan. “Ah, nggak autentik lah. Pertemanan mah harusnya natural, nggak dijadwalin.”

Gue paham banget. Dulu gue juga mikir gitu. Sampai suatu hari gue sadar: gue lebih inget deadline kerjaan daripada tanggal ulang tahun sepupu. Gue lebih rajin nge-track progress proyek daripada nanyain kabar temen yang lagi sakit. Itu namanya autentik?

Akhirnya gue coba. Terapkan sistem personal CRM buat kehidupan sosial gue. Hasilnya? Bukan jadi robot. Tapi jadi lebih aware. Dan hubungan yang selama ini cuma numpang lewat di medsos, jadi punya ruang buat bernapas.

Kata kunci utamanya: Manajemen Hubungan Pribadi. Tapi versi yang manusiawi banget.

Personal CRM Itu Bukan Tentang Kontrol. Tapi Tentang Ingatan.

Bayangin. Kita punya 10, 20, bahkan 50 orang yang kita peduliin—keluarga, temen kantor lama, sahabat SD, mantan rekan proyek. Otak kita nggak didesain buat nyimpen semua detail mereka. Otak kita didesain buat bertahan hidup. Bukan buat inget kalo anaknya si A lagi ikut lomba menggambar bulan depan.

Jadi, personal CRM itu fungsinya jadi external brain. Biar kita bisa fokus di hal yang penting: kehadiran kita waktu ketemu atau chat sama mereka.

Contoh spesifik yang bikin gue tersentak:

  1. “Kok Kamu Ingat Sih?” adalah Kalimat Paling Ajaib. Ada temen kantor lama yang dulu cerita lagi pengen belajar masak Thailand. 6 bulan kemudian, gue ketemu dia di suatu acara. Dari catetan kecil di Notion gue, gue bisa tanya, “Gimana progress masak Tom Yam-nya? Udah coba resep yang pake coconut milk?” Reaksinya? Mata berbinar. “Loh, kamu inget banget?!” Itu bukan basa-basi. Itu perhatian yang tangible. Sebuah studi kasus kecil di komunitas productivity menunjukkan, 89% orang merasa lebih dihargai ketika orang lain mengingat detail kecil tentang hidup mereka.
  2. Mengurangi “Social Guilt” yang Bikin Males Ngedate. Sering ngerasa bersalah karena lama banget nggak kontak seseorang? Terus malah makin dihindari karena ngerasa awkward? Dengan sistem ringkes, gue bisa punya daftar “Orang yang Harus Dijangkau Bulan Ini”. Cuma 3-5 nama. Lalu gue jadwalin 15 menit di Kalender buat check-in—bukan buat ngobrol panjang, tapi buat nyamperin aja. “Lagi gimana? Gue liat kamu liburan ke Bali tuh, asik ya.” Data realistis: setelah punya sistem, interaksi meaningful gue (beyond ‘like’ di sosmed) naik dari 2-3 kali sebulan jadi 10-12 kali. Guilty feeling-nya ilang.
  3. Membedakan “Koneksi” dan “Hubungan”. Dulu, semua kontak rasanya sama aja. Sekarang, di CRM untuk kehidupan sosial gue, ada kategorisasi sederhana: Inner Circle (kontak rutin mingguan), Outer Circle (bulanan/beberapa bulan), dan Acquaintances (perlu di-maintain). Ini bukan buat nge-ranking orang. Tapi buat ngasih alokasi waktu dan energi yang realistis. Gue nggak akan maksain diri buat ketemuan mingguan sama 20 orang. Tapi gue bisa pastiin gue nggak kehilangan kontak sama orang-orang yang bener-bener penting.

Kesalahan yang Bikin Orang Kapok:

  • Mau terlalu detail dari awal. Niatnya mau catat semuanya: warna favorit, makanan kesukaan, sejarah keluarga. Besoknya udah males. Mulai dari yang gampang: nama pasangan/anak, topik penting terakhir, dan next action (e.g., “tanyain soal wawancara kerjanya”).
  • Jadwal yang terlalu ketat. Ini bukan sales target. Kalo minggu ini nggak sempat nge-chat si B, ya udah, geser aja ke minggu depan. Fleksibel.
  • Nggak diskresi. Ini sistem pribadi! Jangan sampe orang lain tau mereka “di-CRM-in”. Itu bakal aneh banget. Ini alat bantu private buat kita jadi temen yang lebih baik.

Gimana Mulai Bikin “CRM Pertemanan” Lo Sendiri? Cuma Butuh 20 Menit.

Nggak perlu software fancy. Coba di Notion, Google Sheets, atau bahkan notes app.

  1. List 10-15 orang yang bener-bener pengen lo jaga hubungannya. Bukan yang paling sering lo chat, tapi yang kalo ilang kontaknya, lo bakal nyesel.
  2. Bikin 3 kolom sederhana banget:
    • Nama & Konteks (e.g., “Rina – temen kampus, suka hiking”)
    • Last Contact / Next Action (e.g., “5 Apr – ngobrolin rencana ganti kerja. Follow up: tanyain hasil interview”)
    • Notes (e.g., “Anaknya, Bumi, umur 3. Lagi suka dinosaurus”)
  3. Set reminder di kalender, sebulan sekali, buat review list ini. 10 menit aja. Siapa yang udah lama banget nggak dijangkau? Update notes-nya.
  4. Action. Pilih 2-3 orang dari list itu, dan kontak sekarang. Bisa cuma WA 2 menit. “Hey, gue inget kamu lagi [isi dari notes]. Gimana progressnya?”

Itu aja. Inti dari sistem CRM pribadi ini adalah mengalihkan cognitive load dari “ingetin” ke “peduliin”. Otak lo dibebasin dari tugas jadi hard disk, biar bisa jadi processor yang emosional dan responsif.

Hasilnya? Hubungan lo jadi lebih dalam, bukan karena lo ngejar target “punya banyak temen”. Tapi karena lo punya ruang dan data buat lebih perhatian. Dan di dunia yang sibuk kayak sekarang, perhatian yang timely dan spesifik itu adalah bentuk keautentikan yang paling tinggi. Coba deh.